Memahami Peraturan Baru PSAK 118

Memahami Perubahan Besar Pelaporan Keuangan: Panduan Lengkap PSAK 118

ATURAN BARU

BP

8/27/20264 min read

Memahami Perubahan Besar Pelaporan Keuangan: PSAK 118

Pendahuluan

Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI telah mengesahkan standar baru yang akan mengubah cara perusahaan menyajikan dan mengungkapkan laporan keuangan mereka. Standar tersebut adalah PSAK 118: Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan.

PSAK 118 secara resmi menggantikan standar sebelumnya, PSAK 201, dan akan berlaku efektif mulai 1 Januari 2027. Meskipun tanggal efektifnya masih beberapa tahun lagi, standar ini menuntut persiapan yang matang dari sekarang karena bersifat retrospektif. Artinya, saat laporan keuangan tahun 2027 diterbitkan, data komparatif untuk tahun 2026 wajib disajikan ulang menggunakan format baru ini.

Artikel ini akan membedah poin-poin kunci perubahan, struktur baru Laporan Laba Rugi, konsep baru yang diperkenalkan, serta dampak implementasinya terhadap bisnis Anda.

1. Mengapa PSAK 118 Lahir?

Latar belakang utama lahirnya PSAK 118 adalah untuk menyelaraskan standar akuntansi Indonesia dengan standar internasional, yaitu IFRS 18: Presentation and Disclosure in Financial Statements.

Tujuannya adalah untuk mengatasi beberapa masalah umum dalam pelaporan keuangan di bawah aturan sebelumnya, antara lain:

  • Kurangnya Keterbandingan: Format Laporan Laba Rugi yang terlalu bebas membuat investor kesulitan membandingkan kinerja antar perusahaan.

  • Ketidakkonsistenan: Penyajian pos-pos beban dan pendapatan seringkali tidak konsisten, bahkan dalam satu industri yang sama.

  • Kurangnya Transparansi: Informasi kinerja manajemen seringkali tidak terstandarisasi dengan baik.

Dengan PSAK 118, diharapkan akan tercipta standarisasi format, peningkatan transparansi, dan perkuat komparabilitas laporan keuangan perusahaan di Indonesia dengan standar global.

2. PSAK 201 vs. PSAK 118: Apa yang Berubah?

Perubahan paling signifikan dari standar lama ke PSAK 118 difokuskan pada struktur Laporan Laba Rugi dan pengungkapan kinerja. Berikut adalah ringkasannya:

  1. Struktur Laba Rugi

    Aturan Sebelumnya : Tidak terstandar. Perusahaan memiliki fleksibilitas tinggi dalam penyajian.

    PSAK 118 (Berlaku 2027): Wajib terstandar dan ketat. Seluruh perusahaan harus mengikuti struktur yang sama.

  2. Subtotal Laba Operasi

    Aturan Sebelumnya : Tidak diwajibkan secara eksplisit.

    PSAK 118 (Berlaku 2027): Wajib menyajikan subtotal laba operasi sebagai subtotal utama.

  3. Klasifikasi Beban

    Aturan Sebelumnya : Beban berdasarkan fungsi atau sifat — pilihan bebas.

    PSAK 118 (Berlaku 2027): Beban berdasarkan fungsi wajib direkonsiliasi ke beban berdasarkan sifat di Catatan atas Laporan Keuangan (CALK).

  4. Pengaturan UKTM

    Aturan Sebelumnya : Tidak ada pengaturan khusus mengenai Ukuran Kinerja Tetapan Manajemen (UKTM) atau Management Performance Measures (MPM).

    PSAK 118 (Berlaku 2027): Wajib mengungkapkan dan merekonsiliasi UKTM di CALK jika digunakan oleh manajemen.

3. Lima Kategori Wajib dalam Laporan Laba Rugi

Di bawah PSAK 118, seluruh pendapatan dan beban wajib diklasifikasikan ke dalam lima kategori utama. Tidak ada lagi pos "lain-lain" yang tidak terkategorikan. Kelima kategori tersebut adalah:

  1. OPERASI (Core Business): Penghasilan dan beban dari aktivitas bisnis utama perusahaan.

  2. INVESTASI: Hasil dari aset yang menghasilkan return independen (seperti bunga, dividen dari investasi pada entitas lain).

  3. PENDANAAN: Biaya dari liabilitas dan ekuitas (seperti bunga pinjaman, biaya penerbitan saham).

  4. PAJAK PENGHASILAN: Beban pajak penghasilan.

  5. OPERASI DIHENTIKAN: Hasil dari segmen bisnis yang sudah dihentikan atau dijual.

4. Dua Subtotal Wajib Baru di Laba Rugi

Perubahan paling krusial dalam format Laporan Laba Rugi adalah diwajibkannya dua subtotal baru sebelum mencapai Laba Bersih. Ini bertujuan untuk menunjukkan kinerja murni operasional perusahaan sebelum dipengaruhi oleh keputusan pendanaan dan pajak.

Urutannya adalah sebagai berikut:

  1. LABA BRUTO

    • (Dikurangi beban operasi lainnya)

  2. 👉 [SUBTOTAL 1] LABA OPERASI

    • (Wajib disajikan — mencerminkan hasil murni dari operasi bisnis inti)

  3. 👉 [SUBTOTAL 2] LABA SEBELUM PENDANAAN & PAJAK

    • (Wajib baru — memisahkan dampak pendanaan dan pajak dari kinerja operasional)

Dengan struktur ini, analisis kinerja keuangan menjadi lebih akurat dan dapat diperbandingkan.

5. Konsep Baru: Wajib Ungkap UKTM (Ukuran Kinerja Tetapan Manajemen)

Seringkali manajemen menggunakan istilah sendiri di luar standar akuntansi untuk mengomunikasikan pandangan mereka kepada investor, seperti "laba inti", "EBITDA disesuaikan", atau "laba operasional sebelum pos-pos khusus". Dalam akuntansi, ini disebut UKTM atau Management Performance Measures (MPM).

PSAK 118 tidak melarang penggunaan UKTM, namun mewajibkan transparansi ketat atas penggunaannya:

  • Wajib Diungkap: UKTM yang dikomunikasikan ke publik wajib diungkap dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CALK).

  • Wajib Direkonsiliasi: Manajemen wajib menyajikan rekonsiliasi antara angka UKTM tersebut dengan subtotal atau total yang paling dekat dalam format standar L/R PSAK 118.

  • Wajib Konsisten: Definisi dan penggunaan UKTM harus konsisten antar periode.

6. Dampak ke Komponen Laporan Keuangan

Penerapan PSAK 118 tidak hanya memengaruhi Laba Rugi, namun seluruh komponen laporan keuangan dengan tingkat dampak yang berbeda-beda:

  • Laporan Laba Rugi (Dampak: Mayor): Perubahan paling signifikan. Struktur harus diubah total mengikuti 5 kategori dan 2 subtotal wajib, serta penyajian beban.

  • CALK (Dampak: Mayor): Membutuhkan pengungkapan tambahan yang ekstensif, terutama terkait rekonsiliasi beban fungsi ke sifat dan penjelasan detail mengenai UKTM.

  • Laporan Arus Kas (Dampak: Sedang): Mungkin memerlukan penyesuaian klasifikasi arus kas masuk/keluar terkait bunga dan dividen agar selaras dengan klasifikasi di Laba Rugi.

  • Neraca & Ekuitas (Dampak: Minor): Sedikit perubahan, terutama pada penyajian pos-pos tertentu agar konsisten dengan pengungkapan baru.

7. Tantangan dan Kendala Implementasi

Mengingat 2027 sudah di depan mata, perusahaan harus mengantisipasi beberapa kendala implementasi berikut:

  1. Redesain Format: Perlu waktu untuk menyusun ulang struktur laporan keuangan sesuai standar baru.

  2. Penyesuaian Sistem ERP: Pemetaan (mapping) akun di sistem akuntansi harus diubah untuk klasifikasi baru.

  3. Identifikasi UKTM: Tim harus mengevaluasi semua komunikasi publik internal dan eksternal untuk memastikan apakah manajemen menggunakan UKTM yang perlu diungkap.

  4. Penyajian Komparatif: Data 2026 wajib disajikan ulang sesuai format PSAK 118 saat 2027 pertama kali berlaku.

  5. Pelatihan Tim: Tim akuntansi dan pelaporan perlu memahami konsep baru secara mendalam.

  6. Dampak Spesifik Industri: Perusahaan di sektor tertentu (seperti keuangan, investasi, atau manufaktur) akan menghadapi tantangan klasifikasi yang berbeda-beda.

⚠️ Kesimpulan:

PSAK 118 adalah pergeseran fundamental dalam pelaporan keuangan Indonesia. Ini bukan sekadar perubahan administratif, melainkan langkah strategis untuk meningkatkan kepercayaan investor melalui transparansi.

Persiapan wajib dimulai sekarang. Jangan menunggu hingga tahun 2026.

Apakah Laporan Keuangan Perusahaan Anda Siap untuk 2027?

Kami dari PT Yunianti Consulting Indonesia siap mendampingi dan membantu perusahaan Anda memahami implikasi PSAK 118, melakukan gap analysis, mendesain ulang format laporan, serta mengidentifikasi UKTM langkah demi langkah.

Hubungi kami untuk konsultasi lebih lanjut.

Penafian: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi umum berdasarkan materi presentasi yang diberikan. Untuk penerapan teknis yang spesifik, harap merujuk pada teks lengkap PSAK 118 atau berkonsultasi dengan konsultan akuntansi profesional.